Pringgasela (Sebuah Wacana Singkat)


Desa Pringgasela sekarang telah terpecah menjadi Empat bagian yaitu:

1. Pringgasela

2. Pringgasela Selatan

3. Aik Dewa

4. Pringgasela Timur (Timuk Belimbing)

Pringgasela sekarang menjadi kota kecamatan yaitu; Kecamatan Pringgasela yang berada di wilayah Kabupaten Lombok Timur. Penduduk desa Pringgasela sendiri memiliki mata pencaharian mayoritas sebagai Petani, Bisnis, Pariwisata, dan berternak ikan di Keramba.

Disepanjang sungai Kokoq Daya (anakan sungai mencerit terusan Kokoq Otak Reban) atau lebih dikenal dengan Subak Otak Reban, berjejer ke arah selatan disepanjang Kokoq Daya terdapat keramba yang sudah berlangsung sejak satu tahun. Adapun kerajinan tenun sebagai andalan sektor pariwisata sangat berkembang pesat terbukti dengan banyaknya artshop handweaving yang menjual hasil kerajinan tenun tersebut.

Adapun Jenis Produk Tenun tersebut, barangkali tidak jauh berbeda dengan jenis hasil produk tenun di pulau lombok ini, antara lain:

1. Sari Menanti

2. Kain Sarung

3. Selendang

4. Taplak Meja

5. Dan aksesoris rumah tangga lainnya

Dalam kiprah Produksi Tenun dikenal dengan Reragian, adapun secara garis besarnya Reragian itu  diperuntukkan untuk mengetahui jenis motif kain tenun yang dihasilkan dan fungsinya. Adapun nama Reragian itu kurang lebih sebagai berikut:

1. Ragi Sari Menanti

2. Ragi Pucuk Rebung

3. Ragi Montor

4. Ragi Samarenda (Mungkin Samarinda)

5. Ragi Nyemok

6. Ragi Sunda

7. Ragi Osap

8. Ragi Langit-langit

9. Ragi Pejet Manok

Pringgasela juga mengenal adanya tunggul, dalam sejarahnya tunggul adalah reragian kain yang digunakan sebagai panji perang pada zaman dahulu kala. kegunaan panji adalah untuk melambangkan kejayaan budaya suatu wilayah kerajaan, kekuatan, dan kemakmuran kerajaan tersebut.

Menilik dialek Bahasa Sasak yang digunakan oleh Masyarakat Pringgasela, maka dialek yang digunakan adalah dialek “Ngno Ngne”, di Lombok sendiri dialaek dapat dibedakan menjadi empat dialek, tanpa mengikutkan dialek Rempung yang merupakan turunan Sumbawa, adapun dialek tersebut adalah:

1. Ngno-Ngne

2. Mno-Mne

3. Nggto-Nggte

4. Meriak-Meriku

Pringgasela sendiri pada masa lampau terpengaruh oleh Budaya Jawa, sehingga lontar yang banyak ditemukan dalam Bahasa Kawi yang merupakan Bahasa Jawa Kuno, namun setelah pengaruh Islam banyak juga lontar yang tertulis dengan Bahasa Arab Melayu. Dalam Sejarahnya Pringgasela pernah dikuasai oleh Kerajaan Anak Agung, sehingga banyak gubukan di pringgasela masih menggunakan nama gubukan bali, seperti gubuk Jero. Pengaruh Islam melahirkan dua macam Paham yaitu; Islam Waktu Lima, dan Islam Wetu Telu, namun dewasa ini karena pengaruh dari NW maka Islam Wetu Telu hampir tidak ada jejaknya di desa Pringgasela.

Wallahu A’lam Bissawwab.

Iklan

About Handri Putrawan

Saya adalah salah seorang staf pengajar di MA NW Pringgasela pada Yayasan Darul Mujahidin Pringgasela.

Posted on 04/01/2012, in Berita Pringgasela Terkini, Wacana Bebas Tentang Pringgasela. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Bagus Bro…Lueq kmajuan na jmaq aik dewa nyusul////

    Suka

Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: